Senin, 14 Maret 2011

budaya antar ajung

 Budaya antar ajung Ini adalah salah satu tradisi Budaya Masyarakat Melayu Sambas di desa Pancur kecamatan Tangaran kabupaten Sambas. Menurut ktetua-tetua masyarakat tangaran bahwa kegiatan antar ajong ini bermula karena adanya tanda-tanda yang diterima oleh masyarakat bahwa sudah saatnya untuk bercocok tanam padi (bersemai). Melalui masyarakat yang dituakan maka dilakukan muasyawarah masyarakat untuk menentukan hari atau tanggal pelaksanaan antar ajong. Apabila telah disepakati maka masyarakat secara bersama-sama mempersiapkan segala perangkat yang diperlukan khususnya untuk mencari kayu atau pohon dihutan kampung yang tepat untuk dijadiklan bahan ajong tersebut. Dalam menentukan pohon tersebut terlebih dahulu dilakukan renungan oleh tetua untuik mendapatkan petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan pembacaan doa bersama. Apabila kayu tersebut sudah ditemukan maka dilakukan pengasapan atau pembersihan kayu tersebut dari roh-roh yang jahat, dengan harapan agar kayu tersebut tetap mampu membawa segala beban yang terdapat dalam ajung tersebut. Pembuatan ajong tersebut dilakukan oleh masyarakat secara bergotong royong dari mulai memotong, membelah bahkan hingga mengecat serta memberi bentuk layar ajong tersebut. Apabila ajong sudah selesai dilaksanakan, maka dilakukan penurunan ajong pada parit kecil sebagai ujud pengadaptasian untuk mengarungi lautan luas. Waktu dilakukan pelepasan antar ajong kelautan lepas, terlebih dahulu semua ajong-ajong punya masyarakat itu disusun secara sejajar dipiinggir pantai dengan corak dan warna yang sangat bervariasi. Karena kegiatan antar ajong sudah merupakan tradisi masyarakat Tangran, maka seluruh masyarakat petani khususnya di daerah tersebut akan datang berduyun untuk menyaksikan prosesinya yang untuk mengetahui bagaimana perjalanan ajong-ajong tersebut menuju lautan lepas.
Sebelum ajong dilepas kelaut terlebih dahulu arak  dengan tradisi tari- tarian seperti Radat dan bahkan Beladiri kuntau yang diiringi dengan bunyi-bunyian gendang tradisional masyarakat setempat. Pelepasan ajong harus dilakukan secara serentak oleh pemilik ajong dengan wakil dari tiap- tiap dusun kampung, ajong tersebut akan digiring kebibir laut yang selanjutnya akan terbawa arus menuju lautan lepas.
Proses perjalanan ajong-ajong tersebut mempunyai arti yang apabila waktu dilepas mengalami tingkat kesulitan untuk berlayar maka diasumsikan bahwa belum adanya rasa keikhlasan begitu juga sebaliknya apabila Ajong tersebut melaju secara cepat dengan tanpa hambatan maka diasumsikan bahwa masa tanam masyarakat akan mengalami masa jayanya.
Sebagai informasi bahwa ajong yang didesain seperti layaknya perahu layer, cumabedanya dari segi pisik ajung berbentuk miniatur dengan dilengkapi beberapa muatan  seperti telur ayam, ratih (pop corn dari padi), beras kuning dan sebagainya.
Tujuan umum dari tradisi antar ajong adalah merupakan proses membuang sementara para pengganggu tanaman-tanaman padi yang diartikan dalam spiritual, agar padi yang  ditanam akan bebas dari gangguan hama.
Prosesi Antar Ajong ini ada tiga fase yang pertama prosesi Antar Ajung seperti yang disebutkan di atas dan fase kedua adalah masa pemberiatahuan dari penghuni ajong yang biasanya ada isyaraat enam bulan kemudian yang intinya memberitahukan bahwa sudah saatnya musim panen dilakuklan, dan ini akan diiringi dengan masa makan empinh bersama-sama antar masyarakat secara terbuka dan fase  ketiga adalah masa antar upeti ke Istana dengan bahan-bahan seperti beras kuning, beras pulut, retih, emping dan padi yang jumlahnya serba sedikit sebagai syarat, biasanya dilakukan pada akhir tahun atau akhir masa panen padi.

Minggu, 13 Maret 2011

IKAN LELE

Konsumsi ikan lele beberapa tahun terakhir ini semangkin meningkat. jika dahulu dipandang sebagai ikan murahan dan hanya dikonsumsi oleh keluarga petani saja, sekarang ternyata konsumen ikan lele semangkin meluas.
rasa daging yang khas serta cara memasak dan menghidangkannya myang secara tradisonal, menu ikan lele menjadi kegemaran masyarakat luas. bahkan, banyak restoran besar yang menghidangkannya. oleh karena itu, harga ikan lele kian meningkat. hal tersebut tentu saja menjadi perangsang bagi petani untuk membudidayakan ikan lele secara intensif.

Sabtu, 12 Februari 2011

PENANAMAN SENGON

Dalam penanganan pembibitan Sengon tentu sangatlah sukar, karna dalam penanganan sengon yang pertama ini yaitu pnyemayan bibit.

Banyak petani yang mengeluh dan kalah semangat dalam penanaman sengon, karna metode yang mereka pakai kurang tepat.

adapun metode yang petani yang sudah cukup baik untuk kita tiru adalah sebelum melakukan pesemayan hendahklah benihnya di rendam dengan air panas dan didiyamkan selama sehari semalam, karena benih sengon kulitnya sangat tebal sehinga benih terlebih dahulu kita rendam dengan air hangat.

setelah direndam selama sehari semalam benih kita semaikan kebedengan yang kita siapkan. setelah dibedenan persemyan lalu bibit kita pindahkan ke polibag ukuran 10 x 20 cm agar untuk mendapatkan perawatan yang insentif. setelah berumur 3 bulan bibit dipolibag sudah bisa kita lepas kelapangan. agar akar tanaman lebih meluas dalam pertumbuhannya. adapun cara jarak kami menanam jaraknya 150 cm agar tanamantidak mudah tumbang dan tanaman lebih cepat meningi.

Kamis, 10 Februari 2011

PERTANIAN DAN MASYARAKAT PEDESAAN DI SAMBAS

Negara kita memang dinyatakan sebagai negarara agraris. secarara kusus, demikian juga di walayah kabupaten sambas.
namun bila di cermati, pada kenyataannya, menurut data yang ada, minat kepada bidang pertanian di kalangan generasi muda terus menurun.

kondisi tersebut dapat ditemukan scara jelas di lingkungan pedesaan simpang empat kecamatan tangaran kabupaten sambas, hampir 78% menyatakan bahwa tidak ingin anaknya menjadi petani.

ini kenyataan yang cukup memperihatikan. ironinya, dalam penelitian sederhana itu ditemukan bahwa mereka yang ingin anaknya menjadi petani sebagian besar adalah para petani mantan pensiunan pegawai negri yang setelah pensiun menikmati hidup tenang menjadi petani.

Salah pandang terhadap pertanian menyebabkan minat masyarakat pedesaan, terutama generasi muda, meski usaha bidang pertanian menjadi minim.
penulis menduga yang menjadi penyebabnya, antara lain, adanya anggapan bahwa pertanian tidak prosfektif, hanya on farm dan tidak punya nilai tambah, maka tidaj mempunyai daya tarik bagi generasi muda desa. generasi muda di desa lebih tertarik untuk mengadu nasib ke negri jiran, malaysia yang lebih nampak jelas prosfeknya. sebagian lagi, ingin berwiraswasta di bidang yang ditekuni dan berwiraswasta di bidang jasa dan negara.

Angapan tersebut di atas bisa muncul karena masyarakat melihat petani hanya sebagai subsistem, hanya bercocok tanam( on farm). padahal tidak seperti itu. pertanian merupakan proses dari on farm rampai off farm, dan bahkan sampai ke industri. dengan demikian, sebenarnya lapangan kerja di pertanian sangat luas.