Kamis, 10 Februari 2011

PERTANIAN DAN MASYARAKAT PEDESAAN DI SAMBAS

Negara kita memang dinyatakan sebagai negarara agraris. secarara kusus, demikian juga di walayah kabupaten sambas.
namun bila di cermati, pada kenyataannya, menurut data yang ada, minat kepada bidang pertanian di kalangan generasi muda terus menurun.

kondisi tersebut dapat ditemukan scara jelas di lingkungan pedesaan simpang empat kecamatan tangaran kabupaten sambas, hampir 78% menyatakan bahwa tidak ingin anaknya menjadi petani.

ini kenyataan yang cukup memperihatikan. ironinya, dalam penelitian sederhana itu ditemukan bahwa mereka yang ingin anaknya menjadi petani sebagian besar adalah para petani mantan pensiunan pegawai negri yang setelah pensiun menikmati hidup tenang menjadi petani.

Salah pandang terhadap pertanian menyebabkan minat masyarakat pedesaan, terutama generasi muda, meski usaha bidang pertanian menjadi minim.
penulis menduga yang menjadi penyebabnya, antara lain, adanya anggapan bahwa pertanian tidak prosfektif, hanya on farm dan tidak punya nilai tambah, maka tidaj mempunyai daya tarik bagi generasi muda desa. generasi muda di desa lebih tertarik untuk mengadu nasib ke negri jiran, malaysia yang lebih nampak jelas prosfeknya. sebagian lagi, ingin berwiraswasta di bidang yang ditekuni dan berwiraswasta di bidang jasa dan negara.

Angapan tersebut di atas bisa muncul karena masyarakat melihat petani hanya sebagai subsistem, hanya bercocok tanam( on farm). padahal tidak seperti itu. pertanian merupakan proses dari on farm rampai off farm, dan bahkan sampai ke industri. dengan demikian, sebenarnya lapangan kerja di pertanian sangat luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar